Menyajikan hidangan seputar informasi sederhana untuk anda

Pesan terakhir dari sahabat

Langkah demi langkah telah kami tapaki. Panas, hujan, senang dan duka telah kami jalani. Kebersamaan ini seakan tak bisa digantikan oleh uang ataupun berlian yang mahal. Itulah Aku dan Icha. Kami sudah bersahabat sangat lama, dari mulai Sampai saat ini di bangku kuliah. Banyak hal yang kami lalui. Sampai di semester 4 ini kam selalu kompak. Meskipun ada masalah yang menghadang kami tetap bersama. Saat itu ketika aku sedang berjalan melewati perpustakaan, aku melihat Icha dududk sendiri dalam keadaan wajah yang murung.

Sahabat

"Hai Cha....!!? Kmu kenapa??" Tanya ku
"Haah.. Aa.. Aku.. Aku nggak apa – apa kok Ndin?!" Jawabnya terkejut

Hari itu aku melihat sahabatku untuk pertama kalinya tak ceria. Sebelumnya aku tidak oernah melihatnya seprti itu, yang biasanya ku lihat adalah goresan senyuman kecil nan manis dari bibirnya. Aku bingung dan termenung di depannya.

*** Lalu tiba – tiba dia mengeluarkan selembar formulir beasiswa untuk melanjutkan kuliah semester 5 sampai akhir di Busan University, Korea Selatan. Karena kebetulan kampus tempat kami kuliah menjalin kerjasama dengan Busan University di bidang Teknik Arsitektur, Kedokteran, dan Kesenian.

"Andin... Jika kamu mempunyai kesempatan kuliah dengan beasiswa ke luar negeri, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Icha.
"Ya aku akan kejar itu, tapi... itu semua nggak mungkin karena aku nggak secerdas kamu..." Jawabku minder sambil menundukkan kepala.
"Kalau kamu nggak cerdas, kamu nggak akan nggak masuk Fakultas Kedokteran.. So bagaimana, kamu masih berminat melanjutkan kuliah ke luar negeri kan??" Sahut Icha sambil memegang pundakku.
"I.. Iya siih.. Tapi.. kamu juga akan ikutkan?? Waktu itu kan kita sudah sepakat untuk kuliah bersama di luar negeri jika memperoleh beasiswa..." Kataku.
"Kalau aku,, aku nggak tahu.. Aku bingung.." Jawab Icha.
"Lhoo kenapa bingung.. Seharusnya kamu ambil beasiswa itu.. Rugi banget kalau nggak kamu ambil..." Sahutku.
"Justru aku ambil ini untuk kamu, Ndin. Supaya kamu nggak mimpi terus ingin kuliah ke luar negeri. Maaf ya, Ndin aku masih ada jam kuliah..." Tutur Icha sambil tersenyum manis. Seakan – akan itu adalah senyuman perpisahan.

Sedangkan aku hanya terangah dan terdiam melihat sahabatku Icha seperti itu.

*** Akhir – akhir ini aku memang heran melihat perubahan tingkah laku Icha yang aneh. Ia jarang memasang senyumannya yang manis. Yang dia berikan padaku sekarang adalah petuah dan motivasi – motivasi agar aku tekun belajar demi menggapai cita – cita. Mungkin itu karena kami sudah dewasa. Kami harus menyiapkan diri untuk menatap masa depan yang akan datang. Tapi sebenarnya itu terlalu aneh. Apa yang terjadi pada sahabatku Icha? Bahkan untuk kali ini aku tidak bisa membaca tingkah laku Icha yang aneh itu. Saat malam, ketika aku sedang menyelesaikan proposal, aku teringat kepada selembar formulir beasiswa yang diberikan Icha kepadaku. Aku membaca formuir itu dan bertanya dalam hati.

"Apa aku bisa melanjutkan kuliah ke Universitas Busan? Apa mungkin aku bisa mencapai cita – citaku sebagai seorang dokter?" Saat aku sibuk memikirkan perasaanku, tiba – tiba handphone ku berdering, ternyata itu telfon dari Icha.
"Hallo Andin..?" Sapa Icha.
"Iya.... Ada apa Cha..?? Tumben malam – malam telfon!?" Sahutku.
"Aku hanya mengingatkan jangan lupa mengisi formulir beasiswa formulir itu. Karena formulir itu akan dikumpulkan hari Senin dan pada hari itu juga akan diadakan seleksi mahasiswa yang akan mendapatkan beasiswa ke Universitas Busan. Ok friend..!!?"
"Itukan kurang satu minggu lagi.. Kamu tuh lebay banget siih Cha...??! Satu minggu kan masih lama..."
"Iya.. Satu minggu memang lama, tapi hari kan berjalan terus.. ntar tahu – tahu aja udah hari Mingu...."
"Hehehehe...... kok ngelantur gtu siih Cha...??"
"Hehehehe....... Ngelantur... Ya nggaklah.. Memang satu minggu itukan cepat... Sudah ya,,, aku hanya mau beritahu itu doang.... Semoga kamu bisa melanjutkan kuliahmu di Busan yaa teman...!!?"

*** Tiga hari berlalu, seperti biasa aku menaiki sepeda motor matikku untuk melaju ke kampus. Sampai di sana banyak mahasiswa kedokteran yang sudah mengumpulkan proposal, tidak ketinggalan juga aku. Setelah selesai mengumpulkan proposal, aku langsung menuju tempat dimana biasanya Icha berada, yaitu perpustakaan. Tapi hari itu beda, aku sama sekali tidak melihat Icha, mungkin Icha masih ada jam kuliah. Lama aku menunggu Icha di perpustakaan. Karena jenuh, aku melangkahkan kakiku perlahan – lahan menuju pintu untuk keluar. Tepat di depan pintu keluar itu aku bertemu dengan teman sekelas Icha.

"Eee.. Vi... Vitha....!!? Kamu Vitha kan teman sekelas Icha...??"
"Oohhw... Iyaa... Ada apa yaa...?? Bukannya kamu Andin..?"
" Iyaa,, Aku Andin... Eee,, Icha hari ini masuk kuliah nggak..? Karena sejak tadi aku nunggu Icha di perpustakaan ini, tapi Icha nggak datang – datang..."
"Lhoo... Ndin kamu belum tahu yaa....??!!"
"Maksud kamu belum tahu apa... Aku nggak ngerti apa – apa....??"
"Yang bener... Kamu kan sahabatnya Icha yang paling dekat.... Icha sakit, Ndin..."
"Apaa.....!!! Kamu nggak bohong kan Vit.. Emang Icha sakit apa...??!"
"Aku kurang tahu, tapi ku dengar Icha mengidap kanker.. tapi itu nggak mungkin.. Karena selama ini Icha nggak menunjukkan tanda – tanda seperti orang
yang sakit parah. Dia malah melakukan aktivitasnya seperti biasa... Bahkan saat mendengar kabar itu, aku sama sekali nggak percaya.. Lebih baik kamu sekarang ke rumah Icha "
"Haaahh... Makasih ya Vit atas infonya..." Sebenarnya aku nggak percaya tentang apa yang dikatakan oleh Vitha padaku. Tapi aku juga merasa bingung karena sudah tiga hari aku tak bertemu dengan Icha. Terakhir aku berkomunikasi dengan Icha lewat telfon. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju rumah Icha.
"Assalamu'alaikum.... ???"
"Wa'alaikumsalam..... Eeehh Non Andin..."
"Bi,, apa Icha ada di rumah? Aku ingin ketemu sama dia Bi..."
"Lhoo,, Non Andin belum tahu yaa,,,!? Non Icha masuk rumah sakit.. Non Icha Sakit Non... "
"Astaghfirullah....!! Apa Bi..? Bibi nggak bohong kan..??
Icha sakit apa Bi..??"
"Non Icha sakit kanker stadium akhir, Non..." Sambil menitihkan air mata.
"Apaa... nggak mungkin....!!"
"Lebih baik Non andin sekarang ke rumah sakit Mutiara Medika sekarang juga.."
"Iyaa,, makasih ya Bi...."

*** Dengan langkah tergesah – gesah aku segera menuju ke rumah sakit Mutiara Medika. Sampai di sana aku bertemu dengan kedua orang tua Icha. Mereka kelihatan sedih. Aku pun berjalan mendekati mereka.

"Keadaan Icha sangat mengkhawatirkan..." Kata mama Icha sambil menangis
"Tante,,, Tante yang sabar yaa Tan.. Tante harus yakin kalau Icha pasti sembuh dan bisa ceria lagi.."
"Tante sudah coba untuk yakin, tapi seprtinya tidak mungkin... mengingat kanker yang di derita Icha sudah sangat parah.."
"Tante harus percya sama Tuhan, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi Icha, Tante, dan Om.. "
"Iyaa... Terimakasih yaa Andin.. Hanya kamu sahabat yang paling baik untuk Icha... "
"Eee,,, Tante,, bolehkah aku melihat Icha sebentar... Aku ingin tahu keadaan Icha, Tante,,,"
"Boleh Andin,," Perlahan langkahku menuju masuk ruang ICU. Seketika tubuhku lemas. Aku tak sanggup menahan air mataku yang terus keluar, apalagi saat aku melihat alat – alat yang dipasangkan ke tubuh Icha. Aku melihat sahabatku bertarung melawan penyakitnya sendiri. Mengapa Tuhan tak membagi penyakit Icha kepadaku juga,, aku tak sanggup melihat sahabatku koma seperti ini.
"Hai.. Cha.. Ini aku Andin.. Sahabatmu... Kenapa kamu berbaring disini,, ini bukan tempatmu Cha... Apa kamu tahu Cha.. Aku kangen banget sama kamu.. Aku ingin kamu tertawa lagi Cha, aku ingin kamu ngajari aku matematika lagi Cha, aku ingin lihat dan dengar kamu main piano lagi Cha.. aku ingin mengulang semua yang pernah kita jalani Cha.. Baik suka maupun duka. Cha,, aku ingin kamu buka mata kamu Cha.."
"Sudah.. Andin,,, Icha pasti dengar apa yang kamu katakan... Hanya Icha tak sanggup untuk berbicara.. "
"Tapi Andin ingin Icha buka mata, Tante... Andin ingin Icha melihatku disini..." Tak lama kemudian... Tubuh Icha kejang dan alat detak jantung Icha tidak berjalan lancar. Aku dan mama Icha segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Icha. Dokter pun datang dan kami menunggu di luar rung ICU sambil berdoa agar tidak terjadi apa – apa dengan Icha.
"Andin... Apa sebelumnya Icha pernah bilang ke kamu, bahwa ia mengidap kanker otak.."
"Icha nggak pernah bilang apa – apa ke Andin, Tante.. Mengeluh saja Icha tidak pernah.."
"Ya,, Allah.. berarti Icha menyembunyikan penyakitnya ini dari kita semua.. Tante juga baru tahu

Icha mengidap kanker otak satu minggu yang lalu. Tante menemukan selembar surat dari rumah sakit yang berada di bawah bantal Icha. Ternyata surat itu adalah surat pernyataan dari dokter, yang menyatakan bahwa Icha mengidap kanker otak stadium akhir..."

"Kenapa Icha menyembunyikan ini dari kita, Tante. Kenapa Icha tak mau membaginya dengan kita.. tapi memang Tante akhir – akhir ini aku melihat perubahan pada diri Icha. Icha yang biasanya ceria, suka bercanda, berubah menjadi seseorang yang murung dan pendiam. Icha lebih suka menghabiskan waktunya di kampus,, tidak seperti biasanya, ketika Andin ajak Icha main selalu mau."
"Mungkin Icha sudah tahu saat yang akan tiba ini...." Sahut papa Icha.
"Papa...!!!!" Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruang ICU. Tapi aku malihat raut wajah dokter itu menujukkan kesedihan, semoga hal itu tidak terjadi.
"Ibu,,, Bapak,,, Mungkin ini adalah keputusan Tuhan yang terbaik bagi kita semua..."
"Maksud dokter apa,, anak saya bisa di selamatkan kan, Dok??! Icha selamat kan, Dok??" Kata mama Icha.
"Maaf, Bu, Pak, Adik... Icha tidak bisa diselamatkan,, Icha sudah meninggal..."
"Apa dokter,, tidak mungkin.. Icha tidak mungkin meninggal.. Icha masih hidup.. Dia anak semata wayang saya dokter,, Icha anak yang kuat. Dia tidak mungkin meninggal...."
"Innalillahiwainnaillaihiroji'un.... Icha anakku... sudah Ma,, sudah,, Icha sudah tiada,,"
"Innalillahiwainnaillaihiroji'un.... Icha,,, kenapa kamu harus pergi secepat ini Cha... Tante, Om.. yang sabar yaa,,, mungkin ini cobaan untuk kita semua..." Mama Icha langsung menerobos masuk ke rusng ICU.
"Icha,, syang ini mama nak.. Bangun nak ini mama..."
"Ma.. Sudah ma.. Icha sudah meninggal..."
"Tante........."

Tangisan pun pecah di dalam ruang ICU. Duka pun menyelimuti hari ini. Kami tak akan lagi menemukan keceriaan Icha lagi, dan aku tak akan lagi menjumpai Icha yang selalu menyapaku saat di kampus. Tubuhku tiba – tiba lemas, tak sanggup lagi berdiri tegak. Mama dan papa Icha langsung bersimpuh karena tak kuat kehilngan anak semata wayangnya itu.

*** Selang berapa lama kemudian, jenazah Icha di bawa pulang untuk dikebumikan. Suasana haru dan pilu menyelimuti pemakaman Icha. Begitu batu nisan telah tertancap di atas tanah merah, duka dan derai air mata tak henti – hetinya mengalir di pemakaman ini. Lalu langkah demi langkah yang pelan akhirnya meninggalkan pemakaman.

*** Lima hari setelah kepergian Icha, aku merasa kesepian. Aku tiidak menemukan lagi senyuman, gurauan dan suara Icha yang selalu membuatku senang. Rasanya aku masih belum percaya kalau Icha telah pergi untuk selamanya. Tapi aku telah mengikhlaskan kepergian Icha. Sore hari sepulang kuliah aku menyemptkan diri untuk mampir ke rumah Almarhummah sahabatku Icha. Masih sangat terlihat suasana duka di rumah Icha, bahkan kedua orang tua Icha masih belum bisa menghilangkan rasa kehilangan anak semata wayangnya itu. Aku melihat Mama Icha berada di kamar Icha sambil mengusap – usap foto anaknya, Icha. Aku pun menghampiri mama Icha.

"Tante... Tante apa kabar....??"
"Tante baik – baik saja, Andin... Tapi tante sangat merindukan anak tante... Tante masih belum percaya kalau Icha sudah meninggalkan tante untuk selama – lamanya... "
"Tante.... tante harus bisa mengikhlaskan kepergian Icha... Kalau tante sedih terus Icha pasti juga ikutan sedih disana... Tante nggak mau itu terjadikan... Tante harus yakin, meskipun Icha udah nggak ada, tapi Icha akan terus ada di sini.. dia tetap nggak akan pernah menghilang. Tante harus percaya itu."
"Iya, Andin... tante coba untuk ikhlas,, dan tante tahu akan hal itu.. Kamu tahu Andin, kamar Icha ini banyak menyimpan kenangan buat tante..."
"Iya, tante.. aku rasa juga begitu..."
"Andin.. Tante tinggal dulu ya sebentar..."

Saat Mama Icha meninggalkanku sendiri di kamar Icha, aku merasa Icha juga ada disini, menemaniku. Kenangan tentang Icha masih melekat di otakku. Semua masih terlihat sama. Mulai dari tatanan foto, tempat tidur yang dihiasi teddy bear favorit Icha dan tatanan meja belajar yang teratur. Lalu entah menagapa kakiku terarah ke meja belajar Icha. Aku melihat sebuah kotak yang berisi buku harian, mungkin itu buku harian Icha. Ku buka dan ku baca buk harian itu. Tulisan Icha sangat rapi. Dari semua tulisan yang tergores di lembaran buku harian itu, aku tertuju pada bagian lembar buku bagian akhir. Ada tulisan yang membuatku tercengang dan terdiam.

"Dear Diary....

Ini adalah lembaran terakhir dri buku harianku.. mungkin ini juga akan menjadi hari terakhirku untuk menulis si lembaran kertas ini. Aku ingin semua yang tergores dalam lembaran kertas ini berarti dan bermakna. Segal tentang hidupku, tentang orang tuaku, tentang sahabatku, dan semua orang yang kusayangi...

Aku ingin tetap hidup di hati mereka, ingin tersenyum untuk mereka, meski suatu saat nanti sukma ini akan hilang juga. Untuk kedua orang tuaku, terimakasih atas segalanya. Atas kasih sayang kalian, perhatian kalian. Karena tanpa mama dan papa aku tidak akan hidup sampai sekarang, bahkan aku tidak akan bisa sekuat ini. Terimakasih untuk sahabat terbaikku, Andin. Kamu memang sahabat yang selalu ada di setiap aku butuh, sahabat yang tak pernah pamrih dan sahabat yang selalu temani aku disaat suka maupun duka.

Maaf jika aku sering merepotkanmu. Tanpa kamu, aku tidak akan seperti ini, menjadi seseorang yang tegar dalam menghadapi semuanya. Maaf, jika aku tidak bisa membagi rasa duka dan sakit ku ini pada kalian semua. Aku tak ingin kalian sedih karenaku. Karena hanya untuk memikirkan ku. Aku tak ingin kalian terbebani oleh ku. Jika Tuhan hanya memberiku waktu semalam ini saja, aku nggak akan membiarkan orang – orang sedih melihatku. Aku akan berusaha tersenyum dan tertawa di depan mereka. Namun, jika orang – orang sudah melihatku terbaring kaku, aku nggak ingin setetes air mata jatuh dari semua orang yang ku sayangi, tetaplah tersenyum walaupaun itu duka. Karena aku akan selalu ada untuk kalian semua.

Pesan terakhir untuk kedua orang tuaku. Ku mohon kalian jangan bersedih jika aku telah tiada. Ku mohon kalian jangan menangis karena kepergianku. Karena aku nggak akan ninggalin mama dan papa. Kalian adalah orang tuaku yang sempurna. Yang telah berhasil mendidikku. Terimakasih.. mama, papa... You're my everything... Dan pesan terakhir untuk sahabatku, Andin. Jangan pernah sia – siakan waktumu. Kejarlah cita – citamu setinggi langit, raihlah apa yang kau impikan dan jadikan itu sebuah kenyataan.

Karena suatu saat nanti dunia akan menyambutmu dengan penuh senyuman. Semoga kamu bisa melanjutkan kuliah ke Universitas Busan. Dan jika kamu kembali tunjukkan padaku atas keberhasilanmu. Tetaplah semangat dan jadi diri sendiri dan hadapilah semua masalah dengan senyuman. Kamu adalah sahabat yang sempurna bagiku. Best friend forever..." Ku tutup buku harian itu sambil menangis tersedu – sedu. Aku keluar dari kamar Icha sambil membawa buku harian itu dan berpamitan kepada orang tua Icha.

Langkahku bergegas menuju kampus lagi. Kini aku nggak ingin mengecewakan sahabatku dan kedua orang tuaku yang selalu mendukungku di setiap perjalanan sekolahku. Aku akan mengikuti program beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke Universitas Busan. Dan menggapai cita – citaku disana.

*** Tak terasa lima tahun berlalu. Kini aku pulang menuju Indonesia. Tak terasa waktu begitu cepat bergulir mengganti lembaran lama menjadi baru. Aku sudah tidak bisa menahan kerinduanku untuk kembali ke negeriku. Sesampainya di bandara, aku bertemu dengan orang – orang yang ku sayangi. Ternyata mereka sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambut kedatanganku. Tak ketinggalan juga kedua orang tuaku.

Aku sangat merindukan mereka begitu pula dengan kakakku, aku juga sangat rindu padanya. Tapi ada satu yang nggak ku lihat dari kerumunan orang - orang yang menyambut kedatanganku. Icha, aku nggak menenukan Icha di sekitar kerumunan itu. Tapi aku yakin Icha ada untukku disini. Selang berapa lama setelah kedatanganku di bandara dan melepaskan kerinduan bersama orang – orang yang ku sayangi. Aku beranjak ke makam sahabatku Icha. Aku akan melepas kerinduaku pada sahabatku Icha.

"Icha... Kamu bisa lihat sekarang... Ini aku, sahabatmu, Andin. Aku telah berhasil menjadi seorang dokter. Aku nggak ingin kamu sedih. Sekarang tersenyumlah, aku disini. Aku senang banget, berkat motivasi darimu, aku jadi seseorang yang bisa memaknai hidup dan lebih dewasa. Icha.... Aku nggak akan pernah melupakanmu. Kamu adalah sahabatku yang tak pernah lekang oleh waktu. Meskipun kamu sekarang sudah tiada di dunia ini, tapi di hatiku kamu tetap hidup dan kamu tetap abadi. Kamu adalah seorang sahabat yang bisa menjadi inspirasi dalam hidupku. Terimakasih sahabat" Banyak yang ku pelajari dari sahabatku, Icha. Aku bisa menjadi seperti ini karena aku sadar tanpa usaha dan doa, semua yang ku lakukan tak akan ada hasilnya. Aku pernah bermimpi lalu terbangun, namun yang ku lakukan bukan tertidur lagi, tapi aku beranjak dari tempat tidur dan mengejar mimpi itu sampai ku dapatkan. Dan yang terpenting aku selalu mengingat pesan terakhir dari sahabatku "Jangan pernah sia – siakan waktumu. Kejarlah cita – citamu setinggi langit, raihlah apa yang kau impikan dan jadikan itu sebuah kenyataan. Karena suatu saat nanti dunia akan menyambutmu dengan penuh senyuman."

Oleh : Ardany
Pada : 11 Agustus 2015

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih atas kunjunganya

Jika anda kurang puas :
1. Silahkan berkomentar secara bijak
2. Dilarang berkomentar dengan berbau unsur SARA
3. Dilarang berpromosi iklan atau produk